IBX592EBDAB2431E

Kataremuk akan memberikan beberapa konten menarik tentang masalah anak remaja yang sedang patah hati, bahagia dan banyak lainnya disini memberikan konten Ucapan, Puisi, Kata Kata, Pantun, Cerpen dan Contoh

Senin, 29 Mei 2017

Persyaratan Menjadi Nazhir, Pengelola Wakaf Produktif

Menurut Guru Besar Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Fathurrahman Djamil, nazhir berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab yaitu ‘nazhara’ yang berarti ‘menjaga, mengelola, memelihara dan mengawasi’. Adapun nazhir sendiri jika diserap ke dalam bahasa Indonesia, dapat diartikan sebagai ‘pengawas’. Sedangkan nazhir wakaf sendiri tentu saja adalah orang yang diberi tugas untuk mengawasi dan mengelola wakaf, istilah inilah yang kemudian dikembangkan menjadi sekelompok orang ataupun badan hukum yang bertugas sebagai pengelola wakaf produktif.

Menurut pasal 9 UU No. 41 tahun 2004 mengenai Wakaf, menyebutkan bahwa nazhir dapat meliputi perseorangan, organisasi maupun badan hukum. Sedangkan persyaratan menjadi nazhir menurut pasal tersebut antara lain: merupakan WNI, beragama Islam, dewasa, amanah, sehat secara jasmani dan rohani serta tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hukum. Sedangkan untuk organisasi, dapat menjadi nazhir apabila telah memenuhi persyaratan di antaranya: pertama, pengurus organisasi yang terkait telah memenuhi persyaratan sebagai nazhir secara perseorangan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). Kedua, organisasi bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan atau keagamaan Islam.

Persyaratan Menjadi Nazhir, Pengelola Wakaf Produktif




Sedangkan untuk badan hukum, syarat menjadi nazhir atau pengelola wakaf yang produktif kurang lebih sama dengan syarat menjadi nazhir bagi suatu organisasi di antaranya adalah: pengurus badan hukum yang terkait telah memenuhi syarat sebagaimana yang dimaksudkan pada ayat (1) dan badan hukum dibentuk sesuai dengan peraturan serta perundang-undangan yang berlaku, dan yang terakhir, badan hukum yang bersangkutan bergerak dalam bidang sosial, kemasyarakatan, pendidikan dan atau keagamaan Islam.

Menurut pasal 11 UU No. 41 tahun 2004, ada beberapa tugas nazhir di antaranya adalah:

      Melakukan tugas keadministrasian terhadap harta benda wakaf.
      Mengelola serta mengembangkan harta benda yang diwakafkan orang sesuai dengan tujuan, fungsi serta peruntukan (kegunaan)nya.
      Melindungi dan mengawasi harta wakaf.
      Melaporkan pelaksanaan tugasnya pada Badan Wakaf Indonesia.

Prof. Dr. Fathurrahman Djamil menambahkan bahwa ada persyaratan umum lainnya yang diperuntukkan bagi calon nazhir di antaranya adalah sebagai berikut:

      Nazhir adalah pemimpin umum dalam wakaf sehingga nazhir haruslah memiliki akhlak yang mulia, amanah, memiliki pengalaman, menguasai ilmu-ilmu administrasi dan keuangan atau yang dianggap perlu dalam melaksanakan tugas dan perannya sesuai dengan jenis wakaf serta tujuannya.
      Harus bisa bekerja sama selama masa kerja yang ia miliki dalam batasan UU wakaf sesuai dengan keputusan dari organisasi sosial serta dewan pengurus. Nazhir wajib mengerjakan tugas harian yang menurutnya baik serta membagi petugas-petugasnya, juga memiliki komitmen dalam menjaga keutuhan wakaf, meningkatkan pendapatan sekaligus menyalurkan manfaatnya, sesuai tugas utamanya yaitu pengelola wakaf produktif.
      Tunduk pada pengawasan Kemenag dan Badan Wakaf Indonesia dan wajib melaporkan kegiatan administrasi dan keuangannya.
Nazhir bertanggungjawab secara pribadi atas hutang atau kerugian yang timbul dan bertentangan dengan UU Wakaf.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Persyaratan Menjadi Nazhir, Pengelola Wakaf Produktif